Halaman

Sabtu, 07 April 2018

love baby

My first posting

            Banyak tulisan yang membicarakan bahwa cinta itu datang dari pandangan, kemudian hati berdebar, dan panah asmara menancap dalam di relung kalbu kemudian  membentuk senyawa asam yang akan menumpuk di lambung, sehingga enggan makan, sulit bobok, bawah sadar sering membentukkan bayangan dia terus tergambar, dan kemudian mencari cara untuk bisa menemuinya, bahkan hanya dari suara si dia yang terdengar pun sudah mengurangi tekanan kerinduan yang bergelayut berat di pikirannya.

Kita lanjutkan yah.......Cinta juga membentuk suatu enzim, banyak penelitian oleh pakar membuktikan enzim tersebut membangkitkan kemampuan seseorang untuk memiliki keberanian untuk melangkah lebih jauh dengan berbagai kemauan seseorang dengan semacam nafsu yang bergelora seakan otak tidak kuasa untuk membendung kemauan bercinta, dan jangan lupakan, saat rawan tersebut mengalir pula detakannya bersama bisikan setan untuk melenakan hati, maka; “hati-hatilah”.

Untuk itu, pantaskanlah lebih dahulu dirimu untuk menjadi bagian terkecil dari masyarakat, yaitu keluarga, barulah menikah, bukan pantas secara biologis. Memang kebutuhan yang satu ini tidak bisa lepas dalam kehidupan berkeluarga, tapi buat apa buru-buru mementingkan kebutuhan nafsu ujung-ujungnya menarik orang tua untuk terlibat membantu ikut memikirkan (jw. cawe-cawe.)  dalam masalah cashflow keluarga.

Kita sering disebut pantas untuk segera berkeluarga, oleh orang lain padahal belum tentu pantas untuk diri kita, yang menghitung bagaimana perjalanan hidup berkeluarga adalah kita, menurut apa kata kita, orang lain mungkin hanya melihat dari jauh, sedang sejarah dan kronikanya kita yang menanggung.
Kemudian hadirnya jabang bayi yang diidamkan oleh omah dan opahnya,(eyang ti atau eyang kung), bagaimana memuliakannya; membuat dia sehat dalam dekapan, membuat si kecil bahagia tanpa proteksi dengan tangisnya, karena hanya tangis yang ia miliki dalam keterbatasannya, apa kita butuh hanya senyumnya yang mungil, sedang larut malam dalam jeritan pilunya, harus banyak orang, termasuk ibu kita, menunggui titisan kita dan terus terjaga agar mimpinya tidak menyeramkan.  

            Namun untuk keluarga muda yang siap dengan berbagai beban dan tanggung jawab sebagai kewajiban, memiliki anak kemudian mendidik, dan melengkapi kebahagiaan berkeluarga.

Buku ini mungkin satu-satunya; ‘how to’ khusus keluarga muda yang sonder menelpon mamah untuk selalu menolong kita, tahap-demi tahap perkembangan fisik dan psikhis baby kita akan terpantau oleh kita tanpa ragu sedikitpun, bahwa hasil terbaik akan teraih dengan gemilang, sebagai ‘the best of experience’.

Kebiasaan bayi ngompol

            Ketenangan yang bahagia, ekspresi yang belajar, tangis yang segera terhenti, tumbuh tanpa memaksa, suara yang bermakna, pipis yang tidak mengering di popok, dan tubuh yang tidak dibebat dengan bubuk jelly(pempers) semua itu kebutuhan bawah sadar bayi kita, jika tidak terpenuhi, apapun alasannya akan menghambat perkembangan bayi kita, salah satu dari serentetan tuntutan tersebut di atas yang paling penting untuk mendapat perhatian yang serius adalah kebutuhan pulp, dan juga pipis, taruh saja hal tersebut dengan nalar dewasa, pipis atau pulp, tersebut akan meresahkan untuk kita, jika menempel kering pada badan kita, akan membuat kita tidak nyaman secara pisik, juga psikhis, dan jika itu terjadi pada bayi kita tentunya akan menghambat perkembangan phisik dan psikhisnya.

            Penanganan untuk pulp dan pipis baby kita kelihatannya mudah, kita tinggal memakaikan popok berjelly, selesai, tahukah saudara bahwa bayi kita menolak kebiasaan tidak baik ini? Setelah kotorannya terbilang najis (dari sudut pandangan agama kotoran bayi sudah menjadi najis setelah bentuk feses berbeda dan air pipis sudah seperti air pipis orang dewasa), inilah wujud pemaksaan pertama kita pada kejiwaan bayi kita yang mungil dan cantik, sementara seharian bahkan semalaman si kecil berkubang dalam najisnya sendiri.

Terkadang memang tidak menyadari, perlakuan terhadap belahan hati kita, sangat begitu jauh dari kata memelihara, masih banyak kesalahan dilakukan, asumsi terhadap baby kita saat ia menangis, hanya kita bisa artikan beberapa, padahal, tangis adalah wujud paling mudah untuk respon negatif yang diterima anak kita, mau makan; ‘nangis’; mau bobo, nangis, mau pipis/pulp; nangis, serba nangis dan kita serba tidak pernah tahu apa respon tangisnya itu dengan wujud apresiasi tindakan yang kita lakukan, yang justru tangisnya menjadi, karena memang kita tidak tahu apa yang harus kita perbuat.

Contoh yang begitu mudah; saat bayi kita memuntahkan susu sehabis nenen mamahnya, saat itu tangis bayi pecah, dan semakin keras dengan nafas tersenga-sengal karena tersedak susu, ibunya panik, papahnya juga ikut ketakutan, karena apa sih yang bisa dilakukan oleh keluarga muda apalagi seorang ayah muda, yang sangat ketakutan menggendong putra tercintanya, dengan dalih takut salah gendong atau ketakutan bayinya kenapa-kenapa, ini yang membuat keluarga muda kemudian tidak banyak belajar hanya mengandalkan ibu mertua, atau yangti(eyang putrinya)  saja, yang ngurus cucunya.

            Bayangkan, ibu kita...., sementara sekian lama sudah membuat kita menjadi lucunya masa bayi, dan kita menjadi nakal usia kanak-kanak, dan mengajari kita berhitung, yang sulitnya minta ampun untuk menghapal pelajaran, sampai nalar kita mulai tumbuh dengan mengerti baik dan buruk perlakuan, lalu ibu bercerita lelaki atau wanita yang menjadi tumbu(jw.tempat beras) yang dapat menjadi tutup(Penutup tempat beras) yang antara keduanya bisa sesuai, besarnya lubang tumbu dan penutupnya tidak pernah sedikitpun bersela, jika dibahasakan dengan bahasa jiwa adalah kedua belah insan berjodoh. Tapi mengapa begitu tega saat rentanya menyambanginya, kita tetap berteriak minta tolong untuk diuruskan bukan sekali tempo kepadanya, tapi terus....dan terus...., setega itu kita terhadap pembuncah raga kita hingga bukan hanya sekedar tubuh tanpa nyawa tetapi ibu juga menyusupkan software kebaikkan menggapai dunia dan akhirat kepada kita, agar tetap beserah-sembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, Masih tidak tahu malu minta tolong mamah?

            Masalah-masalah keseharian sering terjadi disaat mengurus buah hati kita, dan solusi untuk penanganan seketika juga dibahas dalam buku ini, dan pelajaran baik bisa dipetik dan sekaligus dipraktikkan, dengan sabar dan harus penuh kesadaran.
Walaupun fokus pembahasan materi pada buku ini tentang ‘Bagaimana tidak mengompol’, namun sesekali penulis memberikan tip-tip yang mudah diterapkan terhadap munculnya persoalan lain. 
  
            Membiasakan bayi tidak ngompol, tidak sama artinya dengan menghilangkan kebiasaan mengompol pada bayi, dengan bahasa yang lebih jelas antara kedua perbedaan tersebut ialah;    
·         Bagaiamana agar bayi tidak ngompol adalah; membuat suatu  perlakuan terhadap bayi kita sejak awal dan rutin, penuh kesadaran dan kesabaran kita agar bayi mungil, dan cantik, tidak ngompol, sehingga bayi kita sadar, saat panggilan alam untuk pulp atau pipis, maka segera melakukan respon, biasanya dengan terjaga saat tertidur, atau melakukan gerakan yang tidak biasa agar orang tuanya juga menyadari kebutuhan pulp/pipis bayinya.
·         Menghilangkan kebiasaan mengompol pada bayi; inilah yang membedakan dengan pernyataan di atas, menghilangkan kebiasaan lama, sama artinya memutus ketidak sadaraan terhadap kebutuhan pipis atau pulp, yang biasanya kontrol terhadap pipis tidak terkendali, maka diusahakan agar bisa dikendalikan, dan unsur pembeda pada pernyataan ini adalah, adanya kesulitan untuk menghilangkan kebiasaan yang sudah rutin tidak disadarkan, sehingga terus berlanjut bahkan biasanya sampai anak usia remajapun masih mengompol.






















Pendahuluan

            Seperti kebiasaan para ibu muda yang memiliki bayi,  setiap pagi mencuci dan berderet popok yang menguasai tali jemuran, bahkan membuat jemuran baru untuk ditempati popok adik bayinya, sedangkan pakaian ayah dan ibunya tidak begitu banyak, ini kenyataan yang biasa terjadi, bagi keluarga muda, karena popok-popok dan grita atau gurita karena memiliki tangan banyak (jw.baju dalam bayi) kotor terkena pipis atau pulp bayi mereka, untuk mengurangi terlalu banyaknya popok atau grita yang kotor.

Terkadang ibu-ibu  mencicil untuk mencuci kapan waktu, pagi, siang atau sore bahkan tengah malam, kesempatan yang ada biasanya dipergunakan untuk mencuci popok bayinya agar persediaan popok selalu ada dalam keadaan kering-hangat, hal ini malah semakin tambah repot pada saat musim hujan, mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan popok mungkin tidak keburu, maka ibu-ibu muda biasanya lebih kreatif, yang penting dicuci terlebih dahulu dan dibilas kemudian dijajarkan pada tempat tertentu yang tidak terkena hujan, dan tempat-tempat kosong disekitar rumah, dengan terpaksa dipasangi tali jemuran ternaungi untuk sekedar membuat popok atau pakaian bayi kering angin, selanjutnya tugas-tugas lain yang begitu merepotkan, masih harus dikerjakan.

Bagi mereka kaum ibu muda yang memiliki pembantu dirumah memang tidak bermasalah, namun disini penulis mencoba untuk memberikan pengalaman pribadi dengan hidup mandiri tanpa adanya pembantu rumah tangga, bukan pula dasar materi yang  menjadi tinjauan atas tidak disertakan pembantu dalam rumah, focusnya adalah kebebasan, dan tanggung jawab terhadap aplikasi amanah Allah kepada keluarga muda ini, sehingga kita bisa menginstall berbagai macam kebaikkan, dan keutamaan hidup kepada ‘si Lucu’.

Berbeda jika semuanya dilakukan oleh baby sitter  yang juga merangkap pembantu rumah tangga, walaupun sebenarnya tugas baby sitter tidak sama dengan pembantu rumah tangga, namun di masyarakat kita (nggebyah uyah jw; menyamakan rasanya, tidak membedakan tugas dan fungsinya), dan kita tidak akan pernah menyadari bahwa anak kita adalah anak pembantu,  terbukti kekhasan pembantu kita akan terekam jelas pada diri anak kita, bagaimana jika jiwa, dan sifat bayi kita sebagian adalah, result learning yang diterima buah hati kita, karena disepanjang waktunya dengan pembantu, ingat...! seorang bayi jangan dianggap remeh, banyak penelitian dari dunia barat dan Eropah yang menghasilkan bahwa bayi adalah pembelajar yang paling banyak, apa saja masuk dalam rekaman bawah sadarnya, dan tidak menolak sedikitpun, bayi untuk belajar, setelah mulai menjadi kanak-kanak barulah respon penolakan dalam otak anak mulai terbentuk.

Kemudian apakah pembantu kita harus membisukan dirinya untuk tidak berkata apa-apa, untuk mejawab semua pertanyaan anak kita, atau haruskah pembantu kita menjadi tuli untuk tidak mendengar suara anak kita, apakah kita juga akan mengajari pembantu kita untuk menjawab pertanyaan aneh buah hati kita, kira-kira kita ada waktu untuk mengajari pembantu kita hal-hal yang tidak perlu,  justru yang penuh kesabaran menjawab pertanyaan yang kadang aneh dari anak kita adalah ayah dan ibu, bahkan jawabannya akan bijak, tidak sembrono karena apa yang kita sebutkan dan jawabkan akan menjadi pengulangan wajib bagi anak kita, hal ini pula menjadi kepatutan penerapannya untuk berharap menjadi sebijak ayah dan ibunya.

Jangan dibayangkan dahulu jika para keluarga muda harus hidup mandiri tanpa hadirnya ibu mertua atau omah/yangti dirumahnya, nanti kalau mau mandiin dede bagaimana, kalau mau menggendhong yang lebih berhati-hati bagaimana, kalau mau nggantiin popoknya bagaimana, nanti kalau nangis malam-malam tanpa sebab bagaimana, nanti kalau....bla....bla....bla.
“Nah loh............!” 

Kehawatiran yang beruntun tersebut hanya ada dalam angan dan alam emosi(ketakutan), yah....semua itu bakal terjadi, dan pasti akan dilalui, takkan sebutirpun ‘bagaimana jika...bla...bla...bla.’ yang beruntun di atas, satu persoalan akan terlompati, tahu-tahu menjadi anak-anak, tidak begitu... alam menyulap dengan sekejap, yang sekejap justru jika kita larut dalam prosesnya....dan melakukan apa yang menjadi tugasnya....dengan rasa bahagia, senda gurau, dan mendidik, sesaat sebelum sekolah mengambil alih tugas orang tua, inilah masa penting untuk pra sekolah, lupakan hari tanpa harus dihitung, karena menghitung hari, seperti menanti juga membebani pikiran, karena hari-hari akan berlalu tanpa permisi, dan tahu-tahu bayi kita sudah menjadi anak-anak yang suka ngrusuhi(dibaca; belajar) membantu ayah dan ibunya.

Nah.... masa dimana sebutan bayi sudah terlampaui dan menjadi anak-anak, sedikit beban mengurus sudah bisa dicobakan dilakukan oleh anak sendiri, seperti memakai baju, mandi(walau kadang sabun masih ada ditelinga) yang bahkan ayah atau ibunya salah ucap dan sebut, “lho kok telinganya masih!” (maksudnya sabunnya masih ada ditelinga), dan anak itu tidak menghiraukan, sapaan tadi, terus berlari dengan telanjang, bahkan berlama-lama diluar....justru bermain diluar, sungguh pengalaman masa kecil yang teringat kembali dan lucu, itu baru lucunya sedang nakalnya bagaimana, dengan temannya juga, bergaulnya juga, dengan orang lain bahkan terhadap orang dewasa bagaimana, bentuk permainan yang sering ia lakukan bagaimana, banyak bagaimana yang akan menjadi pertanyaan fiktif dan apa yang diperbuat anak-anak kita, ikuti saja apa mau anak kita, sebagai orang tua sudah harus mengiringi langkah-laku anak kita dengan ‘pesan ajaib’, yang akan terngiang saat, dimana anak kita berada, pesan-pesan ajaib ini banyak dicontohlakukan oleh penulis dan banyaknya contoh akan menjadikan keluarga muda ingin menambah momongan baru, lho kok begitu....kesan yang tersampaikan pada kalimat terakhir seperti bercanda, padahal tidak. Karena dengan menambah momongan baru, abangnya/masnya/kakaknya/mBaknya, akan banyak belajar; mengasihi, belajar keadilan, memendam emosi, peduli, dimainin, juga dijahilin, namun meluap emosi paling kentara, jika kerinduan dengan adiknya sehari tidak bisa ditemui, “Adik.... kemana yah.... pertanyaan abangnya yang kelihatan sepintas namun sebenarnya, rasa sesaat kehilangan menguasai emosinya yang tidak biasa.

Semasa keduanya masih anak-anak sih belum begitu terlihat kedekatannya, bahkan cenderung, bertikai, tidak ada beda perempuan dan laki-laki, namun kedewasaan dan nalar yang menampilkan perilaku mereka kemudian, sungguh patut dicontoh, semua itu tidak terjadi kalau tidak sejak dini orang tua, tidak melakukan pendekatan kautaman(perilaku baik) hati, mungkin sampai tua pun mereka tidak akan pernah akur, berebut warisan segala….ha…ha…ha. Semoga Allah menghindarkan semua anak kita. berperilaku seperti di atas.

Semua yang dikerjakan orang tua tidak akan terlihat imbalannya seketika.... namun jika uban sudah menghiasi, kepala kita dan osteoporosis, juga pengapuran sendi sudah menguasai engkol tulang kita, bahkan jalan tidak lagi menjejak dengan gagah.... karena ternyata beri-beri.... dan anak-anak berada dekat dengan kita mengelus dan memijit kaki kita, membaluri kaki ibunya dengan balsam hangat, semua keinginan orang tua disediakan tanpa harus mencari lagi, dengan tangan yang masih kekar sering mengajak langkah gontai orang tuanya beriring jalan, bahkan perjalanan religius sering diberikan untuk ayah dan ibunya, sehingga besar hati orang tuanya menapaki hari –hari senjanya semakin sehat, karena kebanggaan berada disekitar sumber bahagia, anak cucu menantu, menjadi semacam benteng hidup sepanjang hayat. Semua itu sebentuk kecil bukan sekedar imbalan, atau balas jasa kepada orang tua namun wujud penghormatan suci, sembah pangabekti(hormat dan patuh dengan orang tua).

Semoga buku ini bisa menjadi setitik air di padang gersang, walau tidak sampai menyejukkan tetapi mampu melindas dan membasahi tenggorokkan, untuk sekali langkah perjalanan kedepan aamiin.

Kritik....saran untuk lebih menghancurkan kesombongan jika tersirat; sms, chatting, atau wa. mungkin juga cipratan air yang dingin semoga melarutkan banyak idea-idea segar sebagai penambah khasanah dan semakin kaffah tulisan ini Terima kasih....

Untuk kedua anakku;  SA Sasangka dan Dwiky Dh;
“yang sudi menjadi tiang pemapah lungkrahku
Tegal,16 Maret 2017, second son milad
”dalam keheningan memanggil subuh”

Akhmad Arifin
Wa; 085799319504

oOo











Tidak ada komentar:

Posting Komentar