My first posting
Banyak tulisan yang membicarakan bahwa cinta itu datang
dari pandangan, kemudian hati
berdebar, dan panah asmara menancap dalam di relung kalbu kemudian membentuk senyawa asam yang akan menumpuk di
lambung, sehingga enggan makan, sulit bobok, bawah sadar sering membentukkan
bayangan dia terus tergambar, dan kemudian mencari cara untuk bisa menemuinya,
bahkan hanya dari suara si dia yang terdengar pun sudah mengurangi tekanan
kerinduan yang bergelayut berat di pikirannya.
Kita lanjutkan yah.......Cinta juga membentuk suatu enzim,
banyak penelitian oleh pakar membuktikan enzim tersebut membangkitkan kemampuan seseorang untuk memiliki
keberanian untuk melangkah lebih jauh dengan berbagai kemauan seseorang dengan
semacam nafsu yang bergelora seakan otak tidak kuasa untuk membendung kemauan
bercinta, dan jangan lupakan, saat rawan tersebut mengalir pula detakannya
bersama bisikan setan untuk melenakan hati, maka; “hati-hatilah”.
Untuk itu, pantaskanlah lebih dahulu dirimu untuk menjadi
bagian terkecil dari masyarakat, yaitu keluarga, barulah menikah, bukan pantas
secara biologis. Memang kebutuhan yang satu ini tidak bisa lepas dalam
kehidupan berkeluarga, tapi buat apa buru-buru mementingkan kebutuhan nafsu
ujung-ujungnya menarik orang tua untuk terlibat membantu ikut memikirkan (jw. cawe-cawe.)
dalam masalah cashflow keluarga.
Kita sering disebut pantas untuk segera berkeluarga, oleh
orang lain padahal belum tentu pantas untuk diri kita, yang menghitung
bagaimana perjalanan hidup berkeluarga adalah kita, menurut apa kata kita,
orang lain mungkin hanya melihat dari jauh, sedang sejarah dan kronikanya kita
yang menanggung.
Kemudian hadirnya
jabang bayi yang diidamkan oleh omah dan opahnya,(eyang
ti atau eyang kung),
bagaimana memuliakannya; membuat dia sehat dalam dekapan,
membuat si kecil bahagia tanpa proteksi dengan tangisnya, karena hanya tangis
yang ia miliki dalam keterbatasannya, apa kita butuh hanya senyumnya yang
mungil, sedang larut malam dalam jeritan pilunya, harus banyak orang, termasuk
ibu kita, menunggui titisan kita dan terus terjaga agar mimpinya tidak
menyeramkan.
Namun
untuk keluarga muda yang siap dengan berbagai beban dan tanggung jawab sebagai
kewajiban, memiliki anak kemudian mendidik, dan melengkapi kebahagiaan berkeluarga.
Buku ini mungkin satu-satunya; ‘how to’ khusus keluarga muda yang sonder menelpon mamah untuk selalu menolong kita, tahap-demi tahap
perkembangan fisik dan psikhis baby kita
akan terpantau oleh kita tanpa ragu sedikitpun, bahwa hasil terbaik akan teraih
dengan gemilang, sebagai ‘the best of
experience’.
Kebiasaan
bayi ngompol
Ketenangan
yang bahagia, ekspresi yang belajar, tangis yang segera terhenti, tumbuh tanpa
memaksa, suara yang bermakna, pipis yang tidak mengering di popok, dan tubuh
yang tidak dibebat dengan bubuk jelly(pempers) semua itu kebutuhan bawah sadar bayi kita, jika tidak
terpenuhi, apapun alasannya akan menghambat perkembangan bayi kita, salah satu
dari serentetan tuntutan tersebut di atas yang paling penting untuk mendapat perhatian yang
serius adalah kebutuhan pulp, dan juga pipis, taruh saja hal tersebut dengan nalar
dewasa, pipis atau pulp, tersebut akan meresahkan untuk kita, jika menempel
kering pada badan kita, akan membuat kita tidak nyaman secara pisik, juga
psikhis, dan jika itu terjadi pada bayi kita tentunya akan menghambat perkembangan phisik dan psikhisnya.
Penanganan untuk pulp dan pipis baby kita kelihatannya mudah, kita
tinggal memakaikan popok berjelly, selesai, tahukah saudara bahwa bayi kita
menolak kebiasaan tidak baik ini? Setelah kotorannya terbilang najis (dari sudut pandangan agama kotoran bayi
sudah menjadi najis setelah bentuk feses berbeda dan air pipis sudah seperti
air pipis orang dewasa),
inilah wujud pemaksaan pertama kita pada kejiwaan bayi kita yang mungil dan
cantik, sementara seharian bahkan semalaman si kecil berkubang dalam najisnya
sendiri.
Terkadang memang tidak menyadari, perlakuan terhadap
belahan hati kita, sangat begitu jauh dari kata memelihara, masih banyak
kesalahan dilakukan, asumsi terhadap baby kita saat ia menangis, hanya kita
bisa artikan beberapa, padahal, tangis adalah wujud paling mudah untuk respon
negatif yang diterima anak kita, mau makan; ‘nangis’; mau bobo,
nangis, mau pipis/pulp; nangis, serba nangis dan kita
serba tidak pernah tahu apa respon tangisnya itu dengan wujud apresiasi
tindakan yang kita lakukan, yang justru tangisnya menjadi, karena memang kita
tidak tahu apa yang harus kita perbuat.
Contoh yang begitu mudah; saat bayi kita memuntahkan susu
sehabis nenen mamahnya, saat itu tangis bayi pecah, dan semakin keras dengan nafas tersenga-sengal karena
tersedak susu, ibunya panik, papahnya juga ikut ketakutan, karena apa sih yang
bisa dilakukan oleh keluarga muda apalagi seorang ayah muda, yang sangat
ketakutan menggendong putra tercintanya, dengan dalih takut salah gendong atau
ketakutan bayinya kenapa-kenapa, ini yang membuat keluarga muda kemudian tidak
banyak belajar hanya mengandalkan ibu mertua, atau yangti(eyang
putrinya) saja, yang ngurus cucunya.
Bayangkan,
ibu kita...., sementara sekian lama sudah membuat kita menjadi lucunya masa
bayi, dan kita menjadi nakal usia kanak-kanak, dan mengajari kita berhitung,
yang sulitnya minta ampun untuk menghapal pelajaran, sampai nalar kita mulai
tumbuh dengan mengerti baik dan buruk perlakuan, lalu ibu bercerita lelaki atau
wanita yang menjadi tumbu(jw.tempat
beras) yang dapat menjadi tutup(Penutup
tempat beras) yang antara keduanya bisa sesuai, besarnya lubang tumbu dan
penutupnya tidak pernah sedikitpun bersela, jika dibahasakan dengan bahasa jiwa
adalah kedua belah insan berjodoh. Tapi mengapa begitu tega saat rentanya
menyambanginya, kita tetap berteriak minta tolong untuk diuruskan bukan sekali
tempo kepadanya, tapi terus....dan terus...., setega itu kita terhadap
pembuncah raga kita hingga bukan hanya sekedar tubuh tanpa nyawa tetapi ibu
juga menyusupkan software kebaikkan menggapai dunia dan akhirat kepada kita, agar tetap beserah-sembah
kepada Tuhan Yang Maha Esa, Masih tidak tahu malu minta tolong mamah?
Masalah-masalah
keseharian sering terjadi disaat mengurus buah hati kita, dan solusi untuk
penanganan seketika juga dibahas dalam buku ini, dan pelajaran baik bisa
dipetik dan sekaligus dipraktikkan, dengan sabar dan harus penuh kesadaran.
Walaupun fokus pembahasan materi pada buku ini tentang
‘Bagaimana tidak mengompol’, namun sesekali penulis memberikan tip-tip yang
mudah diterapkan terhadap munculnya persoalan lain.
Membiasakan
bayi tidak ngompol, tidak sama artinya dengan menghilangkan kebiasaan mengompol
pada bayi, dengan bahasa yang lebih jelas antara kedua perbedaan tersebut
ialah;
·
Bagaiamana
agar bayi tidak ngompol adalah; membuat suatu perlakuan terhadap
bayi kita sejak awal dan rutin, penuh kesadaran dan kesabaran kita agar bayi
mungil, dan cantik, tidak ngompol, sehingga bayi kita sadar, saat panggilan
alam untuk pulp atau pipis, maka segera melakukan respon, biasanya dengan
terjaga saat tertidur, atau melakukan gerakan yang tidak biasa agar orang
tuanya juga menyadari kebutuhan pulp/pipis bayinya.
·
Menghilangkan
kebiasaan mengompol pada bayi; inilah yang membedakan dengan pernyataan di atas, menghilangkan kebiasaan lama, sama
artinya memutus ketidak sadaraan terhadap kebutuhan pipis atau pulp, yang
biasanya kontrol terhadap pipis tidak terkendali, maka diusahakan agar bisa
dikendalikan, dan unsur pembeda pada pernyataan ini adalah, adanya kesulitan
untuk menghilangkan kebiasaan yang sudah rutin tidak disadarkan,
sehingga terus berlanjut bahkan biasanya sampai anak usia
remajapun masih mengompol.
Pendahuluan
Seperti kebiasaan para ibu muda yang memiliki bayi, setiap pagi mencuci dan berderet popok yang
menguasai tali jemuran, bahkan membuat jemuran baru untuk ditempati popok adik bayinya, sedangkan pakaian ayah dan ibunya tidak begitu banyak,
ini kenyataan yang biasa terjadi, bagi keluarga muda, karena popok-popok dan grita
atau gurita karena memiliki tangan banyak (jw.baju dalam
bayi) kotor terkena pipis atau pulp bayi mereka, untuk mengurangi terlalu
banyaknya popok atau grita yang kotor.
Terkadang ibu-ibu
mencicil untuk mencuci kapan waktu, pagi, siang atau sore bahkan tengah
malam, kesempatan yang ada biasanya dipergunakan untuk mencuci popok bayinya agar persediaan
popok selalu ada dalam keadaan kering-hangat, hal ini malah semakin tambah
repot pada saat musim hujan, mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan
popok mungkin tidak keburu, maka ibu-ibu muda biasanya lebih kreatif, yang
penting dicuci terlebih dahulu dan dibilas kemudian dijajarkan pada tempat
tertentu yang tidak terkena hujan, dan tempat-tempat kosong disekitar rumah,
dengan terpaksa dipasangi tali jemuran ternaungi untuk sekedar membuat popok
atau pakaian bayi kering angin, selanjutnya tugas-tugas lain yang begitu
merepotkan, masih harus dikerjakan.
Bagi mereka kaum ibu muda yang memiliki pembantu dirumah
memang tidak bermasalah, namun disini penulis mencoba untuk memberikan
pengalaman pribadi dengan hidup mandiri tanpa adanya pembantu rumah tangga, bukan
pula dasar materi yang menjadi tinjauan
atas tidak disertakan pembantu dalam rumah, focusnya adalah kebebasan, dan
tanggung jawab terhadap aplikasi amanah Allah kepada keluarga muda ini, sehingga kita bisa menginstall berbagai macam kebaikkan,
dan keutamaan hidup kepada ‘si Lucu’.
Berbeda jika semuanya dilakukan oleh baby sitter yang juga
merangkap pembantu rumah tangga, walaupun sebenarnya tugas baby sitter tidak
sama dengan pembantu rumah tangga, namun di masyarakat kita (nggebyah uyah jw; menyamakan rasanya, tidak
membedakan tugas dan fungsinya), dan kita tidak akan pernah menyadari bahwa
anak kita adalah anak pembantu, terbukti
kekhasan pembantu kita akan terekam jelas pada diri anak kita, bagaimana jika
jiwa, dan sifat bayi kita sebagian adalah, result
learning yang diterima buah hati kita, karena disepanjang waktunya dengan
pembantu, ingat...! seorang bayi jangan dianggap remeh, banyak penelitian dari
dunia barat dan Eropah yang menghasilkan bahwa bayi adalah pembelajar yang
paling banyak, apa saja masuk dalam rekaman bawah sadarnya, dan tidak menolak
sedikitpun, bayi untuk belajar, setelah mulai
menjadi kanak-kanak barulah respon penolakan dalam otak anak
mulai terbentuk.
Kemudian apakah pembantu kita harus membisukan dirinya
untuk tidak berkata apa-apa, untuk mejawab semua pertanyaan anak kita, atau
haruskah pembantu kita menjadi tuli untuk tidak mendengar suara anak kita,
apakah kita juga akan mengajari pembantu kita untuk menjawab pertanyaan aneh buah
hati kita, kira-kira kita ada waktu untuk mengajari pembantu kita hal-hal yang
tidak perlu, justru yang penuh kesabaran
menjawab pertanyaan yang kadang aneh dari anak kita adalah ayah dan ibu, bahkan
jawabannya akan bijak, tidak sembrono karena apa yang kita sebutkan dan
jawabkan akan menjadi pengulangan wajib bagi anak kita, hal ini pula menjadi
kepatutan penerapannya untuk berharap menjadi sebijak ayah dan ibunya.
Jangan dibayangkan dahulu jika para keluarga muda harus
hidup mandiri tanpa hadirnya ibu mertua atau omah/yangti dirumahnya, nanti kalau mau mandiin dede bagaimana,
kalau mau menggendhong yang lebih berhati-hati bagaimana, kalau mau nggantiin
popoknya bagaimana, nanti kalau nangis malam-malam tanpa sebab bagaimana,
nanti kalau....bla....bla....bla.
“Nah loh............!”
Kehawatiran yang beruntun tersebut hanya ada dalam angan
dan alam emosi(ketakutan),
yah....semua itu bakal terjadi, dan pasti akan dilalui, takkan sebutirpun
‘bagaimana jika...bla...bla...bla.’ yang beruntun di atas, satu persoalan akan
terlompati, tahu-tahu menjadi anak-anak, tidak begitu... alam menyulap dengan
sekejap, yang sekejap justru jika kita larut dalam prosesnya....dan melakukan
apa yang menjadi tugasnya....dengan rasa bahagia, senda gurau, dan mendidik,
sesaat sebelum sekolah mengambil alih tugas orang tua, inilah masa penting
untuk pra sekolah, lupakan hari tanpa harus dihitung, karena menghitung hari, seperti menanti juga membebani pikiran, karena hari-hari
akan berlalu tanpa permisi, dan tahu-tahu bayi kita sudah menjadi anak-anak
yang suka ngrusuhi(dibaca; belajar) membantu
ayah dan ibunya.
Nah.... masa dimana sebutan bayi sudah terlampaui dan
menjadi anak-anak, sedikit beban mengurus sudah bisa dicobakan dilakukan oleh
anak sendiri, seperti memakai
baju, mandi(walau kadang sabun masih ada
ditelinga) yang bahkan ayah atau ibunya salah ucap dan sebut, “lho kok
telinganya masih!” (maksudnya sabunnya masih ada ditelinga), dan anak itu tidak
menghiraukan, sapaan tadi, terus berlari dengan telanjang, bahkan berlama-lama
diluar....justru bermain diluar, sungguh pengalaman masa kecil yang teringat kembali
dan lucu, itu baru lucunya sedang nakalnya bagaimana,
dengan temannya juga, bergaulnya juga, dengan orang lain bahkan terhadap orang
dewasa bagaimana, bentuk permainan yang sering ia lakukan bagaimana, banyak bagaimana
yang akan menjadi pertanyaan fiktif dan apa yang diperbuat anak-anak kita, ikuti saja apa mau anak kita, sebagai orang tua sudah
harus mengiringi langkah-laku anak kita dengan ‘pesan ajaib’, yang akan
terngiang saat, dimana anak kita berada, pesan-pesan ajaib ini banyak
dicontohlakukan oleh penulis dan banyaknya contoh akan menjadikan keluarga muda
ingin menambah momongan baru, lho kok begitu....kesan yang tersampaikan pada
kalimat terakhir seperti bercanda, padahal tidak. Karena dengan menambah momongan baru,
abangnya/masnya/kakaknya/mBaknya, akan banyak belajar; mengasihi, belajar keadilan,
memendam emosi, peduli, dimainin, juga dijahilin, namun meluap emosi paling
kentara, jika kerinduan dengan adiknya sehari tidak bisa ditemui, “Adik.... kemana yah.... pertanyaan abangnya yang kelihatan
sepintas namun sebenarnya, rasa sesaat kehilangan menguasai emosinya yang tidak
biasa.
Semasa keduanya masih anak-anak sih belum begitu terlihat
kedekatannya, bahkan cenderung, bertikai, tidak ada beda perempuan dan
laki-laki, namun kedewasaan dan nalar yang menampilkan perilaku mereka
kemudian, sungguh patut dicontoh, semua itu tidak terjadi kalau tidak sejak
dini orang tua, tidak melakukan pendekatan kautaman(perilaku
baik) hati, mungkin sampai tua pun mereka tidak akan pernah akur, berebut
warisan segala….ha…ha…ha. Semoga Allah menghindarkan semua anak kita.
berperilaku seperti di atas.
Semua yang dikerjakan orang tua tidak akan terlihat
imbalannya seketika.... namun jika uban sudah menghiasi, kepala kita dan
osteoporosis, juga pengapuran sendi sudah menguasai engkol tulang kita, bahkan
jalan tidak lagi menjejak dengan gagah.... karena ternyata beri-beri.... dan
anak-anak berada dekat dengan kita mengelus dan memijit kaki kita, membaluri
kaki ibunya dengan balsam hangat, semua keinginan orang tua disediakan tanpa
harus mencari lagi, dengan tangan yang masih kekar sering mengajak langkah
gontai orang tuanya beriring jalan, bahkan perjalanan religius sering diberikan
untuk ayah dan ibunya, sehingga besar hati orang tuanya menapaki hari –hari
senjanya semakin sehat, karena kebanggaan berada disekitar sumber bahagia, anak
cucu menantu, menjadi semacam benteng hidup sepanjang hayat. Semua itu sebentuk
kecil bukan sekedar imbalan, atau balas jasa kepada orang tua namun wujud
penghormatan suci, sembah pangabekti(hormat dan patuh dengan orang tua).
Semoga buku ini bisa menjadi setitik air di padang
gersang, walau tidak sampai menyejukkan tetapi mampu melindas dan membasahi
tenggorokkan, untuk sekali langkah perjalanan kedepan aamiin.
Kritik....saran untuk lebih menghancurkan kesombongan
jika tersirat; sms, chatting, atau wa. mungkin juga cipratan
air yang dingin semoga melarutkan banyak idea-idea segar sebagai penambah khasanah
dan semakin kaffah tulisan ini Terima kasih....
Untuk kedua anakku;
SA Sasangka dan Dwiky Dh;
“yang sudi menjadi tiang pemapah lungkrahku”
Tegal,16 Maret 2017, second son milad
”dalam keheningan memanggil subuh”
Akhmad
Arifin
Wa;
085799319504
oOo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar